Pantun Melayu adalah warisan budaya yang
indah, penuh makna, dan relevan sepanjang zaman. Dari nasehat hingga jenaka,
dari cinta hingga agama, pantun menjadi cermin kehidupan masyarakat. Semoga
kumpulan pantun ini bisa menjadi inspirasi, hiburan, sekaligus pengingat akan
pentingnya menjaga tradisi lisan Nusantara.
1. Pantun Nasehat
Pantun nasehat berisi
petuah bijak tentang budi pekerti, menjaga tutur kata, dan pentingnya ilmu.
Pisang emas dibawa
belayar,
Masak sebiji di
atas peti;
Hutang emas boleh
dibayar,
Hutang budi dibawa
mati.
Pulau Pandan jauh
ke tengah,
Gunung Daik
bercabang tiga;
Hancur badan
dikandung tanah,
Budi yang baik
dikenang juga.
Kalau ada jarum
patah,
Jangan disimpan di
dalam peti;
Kalau ada silap dan
salah,
Jangan disimpan di
dalam hati.
Naik perahu menuju seberang,
Air sungai tampak tenang,
Jika ingin hidup gemilang,
Terus berusaha jangan menyerang.
Berburu ke padang datar,
Mendapat rusa
belang kaki.
Berguru kepalang
ajar,
Bagai bunga kembang
tak jadi.
Bapak membuat sapu
lidi,
Menghias rumah dari
tanduk.
Mari belajar dari
padi,
Makin berisi makin
tunduk.
Lebat kayu pantang
ditebang,
Sudah berbuah lalu
berdaun.
Adat Melayu pantang
dibuang,
Sudah pusaka
turun-temurun.
Bendahara mudik
berkakap,
Balai Selasa
kembang pelangai.
Saudara jangan
berbesar cakap,
Jaga-jaga pegang
perangai.
Kalau ada jarum
yang patah,
Jangan simpan dalam
peti.
Kalau ada kata yang
salah,
Jangan simpan dalam
hati.
2. Pantun Agama
Pantun agama
menekankan ketakwaan, ibadah lima waktu, serta bekal untuk kehidupan akhirat.
Asam kandis asam
gelugur,
Ketiga asam si
riang-riang.
Menangis mayat di
dalam kubur,
Teringat badan
tidak sembahyang.
Baju lama sudah
kumal,
Kembang manis
tempat si lebah.
Punya ilmu tiada
amal,
Bagaikan pohon
tidak berbuah.
Baju baru sudah
dibelikan,
Kapal tenggelam
sudah karam.
Sholat yang lima
ditegakkan,
Supaya hati merasa
tentram.
Beli baju warna
merah,
Burung putih burung
dara.
Siapa yang
tinggalkan agama,
Tentu hidupnya akan
sengsara.
Pisang nipah di
Batu Layang,
Anyam ketupat di
ujung tanjung,
Hati susah bawa
sembahyang,
Di situ tempat iman
bergantung.
Kemumu di dalam
semak,
Jatuh melayang
selaranya,
Meski ilmu setinggi
tegak,
Tidak sembahyang
apa gunanya.
Di gunung sana kau
suka berlibur,
Di gunung sini kau
suka tertawa,
Bila sudah masuk
kubur,
Hanya amal yang
dibawa.
Kain basah dibawa
mandi,
Sudah mandi dibawa
pulang,
Amal ibadah dibawa
mati,
Budi yang baik
dikenang orang.
Dari kecil nan
cencilak padi,
Sudah besar
cencilak padang.
Dari kecil nak
duduk mengaji,
Sesudah besar tegak
sembahyang.
3. Pantun Cinta dan
Kekasih
Pantun romantis khas
Melayu yang mengibaratkan kesetiaan, kerinduan, dan ketulusan kasih sayang.
Jelatik burung di
awan,
Selasih di atas
peti.
Sudah cantik
bersama padan,
Kasih tersangkut
dalam hati.
Coba-coba menanam
mumbang,
Moga-moga tumbuh
kelapa.
Coba-coba bertanam
sayang,
Moga-moga menjadi
cinta.
Dari mana punai
melayang,
Dari paya turun ke
padi,
Dari mana datangnya
sayang,
Dari mata turun ke
hati.
Dua tiga kucing
berlari,
Manakan sama si
kucing belang,
Dua tiga boleh
kucari,
Manakan sama adik
seorang.
Pucuk pauh delima
batu,
Anak sembilang di
tapak tangan,
Walau jauh beribu
batu,
Hilang di mata di
hati jangan.
Indah nian cahaya
rembulan,
Menyinar terang di
malam hari,
Cinta sejati tiada
luput zaman,
Tertulis kukuh di
dalam hati.
Layang-layang
terbang ke awan,
Putus talinya jatuh
ke bumi,
Cinta di hati bukan
mainan,
Ikhlas datang dari
sanubari.
Kalau tuan pergi ke
Tanjung,
Kirim saya sehelai
baju.
Kalau tuan menjadi
burung,
Saya menjadi
ranting kayu.
Burung dara ada
sayap dikepak,
Ikan di hilir
berenang-renang.
Makan tak enak
tidur tak enak,
Hanya teringat
dinda seorang.
Jika roboh kota
Melaka,
Papan di Jawa saya
tegakkan.
Jika sungguh kanda
berkata,
Badan dan nyawa
saya serahkan.
4. Pantun Patah
Hati, Perpisahan, dan Perceraian
Mengutarakan kesedihan
akibat ditinggal kekasih, rasa galau, atau kepasrahan saat berpisah.
Terbang sekawan
burung belibis,
Jatuh seekor di
tepi cadas.
Hatiku sakit bagai
dihiris,
Kasih ku harap
tidak berbalas.
Asap api embun
berderai,
Patah galah haluan
perahu.
Niat hati tak
hendak bercerai,
Kuasa Allah siapa
yang tahu.
Matahari terbit di
ufuk timur,
Sinarnya terang
menyinari pagi,
Kenangan indah
takkan luntur,
Meski raga tak lagi
berseri.
Bunga mawar harum
semerbak,
Mekar indah di
taman kota,
Walau jarak kini
merenggang,
Persahabatan tetap
terjaga.
Dari teluk berjalan
pulang,
Naik ke rumah
sudahlah senja.
Hatiku remuk bukan
kepalang,
Adik tercinta sudah
berpunya.
Anak monyet mencuri
bugis,
Matanya pedih kena
jelatang.
Awak tertawa saya
menangis,
Kekasih pergi
dibawa orang.
Buluh cinta
berwarna kuning,
Tegak lurus dengan
kokohnya.
Karena adik sudah
berpaling,
Badanku kurus
menanggung duka.
Terang bulan di
pulau Pinang,
Anak Belanda turun
ke kapal;
Tengah malam
bangkit terkenang,
Air mata turun di
bantal.
Masaklah buah jambu
arang,
Burung undan
tinggalkan sarang;
Rajawali sudahlah
tiba,
Tanda kasih sudah
hilang.
Asal kapas menjadi
benang,
Asal benang menjadi
kain;
Yang lepas jangan
dikenang,
Sudah menjadi orang
lain.
5. Pantun Keluarga
dan Pertemanan
Berisi pesan
persahabatan sejati, kasih sayang orang tua, dan menjaga kerukunan.
Indah sekali kulit
rusa,
Bermain di taman
berbatu-batu.
Kasih Ibu sepanjang
masa,
Takkan musnah
ditelan waktu.
Pohon salak banyak
berduri,
Anjing berkais di
tepi gua.
Teman gelak mudah
dicari,
Kawan menangis
jarang bersua.
Ada emas dua puluh
karat,
Dijual mahal di
Ciupas.
Tali persahabatan
ikat erat,
Jangan biarkan ia
terlepas.
Hati senang di hari
raya,
Wajah ceria banyak
tawa.
Jadilah sahabat
yang setia,
Setia dalam suka
maupun duka.
Bunga melur dalam
jambangan,
Di tepi kolam
menjadi hiasan;
Kucipta pantun buat
renungan,
Semarak Nilam
empunya wawasan.
Anak muda pulang ke
desa,
Ibu dan ayah lama
menanti;
Warga membaca tak
buang masa,
Khutub khanah teman
sejati.
Pohon pedada di
dalam taman,
Jadi idaman si anak
rusa;
Marilah anakanda
marilah teman,
Kita membaca
sepanjang masa.
Meniti senja biasan
mentari,
Merkah setitis
menjelang kabut;
Bacalah baca setiap
hari,
Tak akan habis ilmu
dituntut.
Anak gembala pergi
merumput,
Pulang ke rumah
membawa beras.
Kepada ibu lemah
lembut,
Jangan pernah
berkata keras.
6. Pantun Jenaka
dan Lucu
Pantun sindiran
bersahaja dan kelakar khas Melayu untuk memancing tawa dan mencairkan suasana.
Limau purut di tepi
rawa,
Buah belimbing
belum masak.
Sakit perut sebab
tertawa,
Melihat kucing
duduk berbedak.
Pohon manggis di
tepi rawa,
Tempat lebah
menyimpan madu.
Sedang menangis
nenek tertawa,
Melihat kakek
bermain gundu.
Elok-elok
menunggang kuda,
Tebing bertarah
tanahnya licin.
Elok-elok berbini
muda,
Nasi hangus
gulainya masin.
Emak lentik pandai
menari,
Tanpa letih kayak
Mak Lampir.
Nian cantik wajahmu
hari ini,
Abang nak pinjam
uang buat traktir.
Anak kucing di
dalam kapal,
Kapal berlayar
sampai Jakarta,
Adik tertawa
terpingkal-pingkal,
Melihat monyet
berkacamata.
Kue lapis di dalam
kotak,
Kue dibeli di pasar
jongkok,
Ayah tertawa
terbahak-bahak,
Melihat kera
mengisap rokok.
Kupu-kupu terbang
melintang,
Hinggap menghisap
bunga layu,
Hati di dalam
menaruh bimbang,
Melihat ikan
membaca buku.
Orang Rengat
menanam betik
Betik disiram air berlinang
Hilang semangat penghulu itik
Melihat ayam lumba berenang.
7. Pantun Anak-Anak
Pantun riang dan penuh
pesan moral sederhana untuk memotivasi anak-anak dalam belajar dan mematuhi
nasihat.
Siapa suka daun
talas,
Sebelum makan cuci
dan bilas.
Siapa yang
belajarnya malas,
Jadi anak bodoh di
dalam kelas.
Pergi ke sungai
memancing ikan,
Ikan betok ikan
gabus.
Di rumah pun PR
kita kerjakan,
Supaya dapat nilai
yang bagus.
Pilih salak yang
besar-besar,
Salah dibau harum
kulitnya.
Jadilah anak yang
rajin belajar,
Kelak engkau banyak
ilmunya.
Api unggun membuat
hangat,
Kalau badan kita
kuat.
Pasti belajar makin
semangat,
Menjaga kesehatan
tubuh agar giat.
Pergi ke gunung
untuk mendaki,
Mendaki sambil
berhati-hati.
Saat mandi jangan
lupa menggosok gigi,
Agar gigi bersih
tidak bolong lagi.
Udara segar di
waktu pagi,
Datang surya tak
ada awan,
Anak baik suka
berbagi,
Hati mulia sifatnya
dermawan.
Main layangan di
tengah taman,
Duduk sendiri di
atas tikar,
Saling sayang
bersama teman,
Saat bermain jangan
bertengkar.
Belum ada tanggapan untuk "Kumpulan Pantun Melayu Berbagai Tema (Nasehat, Agama, Jenaka, Anak-anak, dll)"
Post a Comment
Dilarang membagikan link judi, pornografi, narkoba, dan kekerasan. Terimakasih.